Jumat, 09 Maret 2012

sebuah catatan sejarah mahasiswi galau


Mau nulis apa ya? Aku juga bingung sebenarnya, tapi kata orang bijak -termasuk aku yang sebearnya hanya mengaku-aku menjadi orang bijak- hahaha :D kalau kita hanya berangan-angan, bermimpi, berimajinasi tanpa mau memulainya pasti akan terasa berat. 'menjadi seorang pemikir itu baik, namun lebih baik lagi apabila berjalan beriringan dengan pemikiran' Talk less do More. Kalo kata iklan begitu.. emm, mau mulai dari mana enaknya? Baiklah. Sudah saya putuskan. Kita beranjak saja dari pemikiran ku disaat aku mulai beranjak dewasa.
Dewasa ini aku sering memikirkan, sebenarnya menjadi seorang yang sebenar-benarnya orang -yang sering dikatan orang tua sudah matang dewasanya- itu sangat butuh banyak perjuangan. Sudah mulai ku rasakan. Aku rasa ini adalah sebuah proses. Suatu proses pembelajaran hidup. Yaah, sedikit aku dapat merasakan bagaimana perasaan ini, jiwa ini, kelabilan ini, pemikiran ini, kejenuhan ini, kegalauan yang semakin membengkak ini. Apa maksud dari apa yang saya katakan barusan? Yapp! Aku mulai ya..
Perkenalkan, nama saya futihatur Rahmawati biasa di panggil TIKA. Entah kenapa sampai sekarang saya sendiri masih penasaran dan belum menemukan hasil dari riset yang telah saya lakukan. Ndobos -red. Tentang pemanggilan nama saya yang sangat tidak nyambung ini. Sudah berapa ratus ribu orang yang mengangkat alis matanya dan mengernyitkan sedikitnya tigaratus kerutan diwajahnya saat mendengarkan nama panggilan saya yang sebenarnya sangat tidak pas seratus delapan puluh derajat -walau tidak sampai 360 derajat- Kok bisa di panggil TIKA?
Wow!! impossible banget ya kalo saya langsung menjawab dengan jawaban “wah, aku juga gak tau tuh kok bisa kayak gitu!” pasti saat itu juga orang-orang yang sebenarnya tekad utamanya berkenalan manis manja denganku langsung memasangkan tampang jahat mereka dan dalam hatinya berkata: 'Gila ni orang! Masa sejarah nama sendiri aja ga tau, pasti hidupnya juga ga tau, pasti saudara-saudarannya juga ga jelas, pasti pikirannya juga ga jelas, pasti, pasti, pasti..' semua penuh dengan ketidakpastian imajinasi pikiranku sendiri! Oh Tuhaaan, apaa dosaaakuuu? -Langsung sujud taubat- dan walhasil, apa jawabanku sebenarnya untuk ketidakpastian nama panggilanku itu?
Kalau di akte kelahiran, nama panjang ku memang tertulis dengan gambang FUTIHATUR RAHMAWATI. Pada tanggal 22 mei 1991 hari selasa Kliwon telah lahir bayi merah gempal -dulu belum secantik ini- dengan berat --sensor- dan panjang --sensor- [rahasia Rekam Medis] tanpa ada tertulis tulisan nama panggilan TIKA disana. emm, membingungkan memang.. Namun telisik punya telisik, ketika saya menanyakan kepada babe saya asal muasal dari nama panggilan saya, dan itupun ketika saya tidak dapat menjawab pertanyaan dari beribu orang teman-teman saya di sekolah dasar tepatnya kelas 2. Dan begini jawaban babe saya: Duh, nak saya juga bingung mau menjawab apa.. beberapa waktu kemudian beliau diam. Terlihat berfikir serius dengan tampang tidak bersalahnya beliau menjawab: nama mu kan futihatur rahmawati, nah kalo di tulis arab jadi kayak gini.. -mengambil kertas sembarang dan menuliskannya nama saya dalam bentuk arab- nah, nama TIKA itu diambil dari fuTIHAtur rahmawati. karena lidah orang jawa ga bisa ngomong arab, jadi TI-KHA [dari huruf ta' dan kha'] terciptalah nama tika. Dan orang kampung manggil kamu tika. Itu lebih gampang kan?
Saat itu juga tampangku langsung menciut dan menaikkan bibir sebelah kanan ku tigapuluh derajat. Senyum tidak ikhlas menghinggap di wajah saya saat itu juga. Dan hanya bisa menjawab: 'oh, gitu ya?' Oh Tuhaaaan, bergegas aku berlari ala sinetron dimana peran wanitanya sedang patah hati ala filam india. Ndodok di sudut kamar dan merenungi nasib. Dan bayangkan saat itu saya masih kelas dua SD harus memikirkan betapa beratnya nama saya, saking beratnya saya pun tidak menyangka babe saya akan menjawab sedemikian rupa detailnya. Eh, lebih tepatnya, berat untuk saya katakan kepada semua orang. Maluuuuuu!! berasa tertimbun batu duaratus kilo yang biasa untuk peletakan batu pertama pembangunan masjid-masjid kampungku. Semenjak itu, saya bercerita perihal iini hanya kepada beberapa orang yang bertanya tentang asal usul nama saya saja, pastinya saya menjawab pada orang yang akan tidak menertawai dengan sangat puas tentang nasib dan sejarah nama saya ini. Hiks.
Suatu ketika, saya beranjak di kelas 4 SD Entah kenapa, di SD saya, saya sebagai murid yang dikenali oleh guru-guru saya. Dari 120 murid dengan tiga kelas disana, saya termasuk salah satu murid permpuan yang mencolok mata para guru. Buandeelnya minta ampun, sangat narsis, sok ngeksis dan sangat kepedean. Entah kenapa kebiasaan suka ngeksis saya sudah tertanam dari saya kecil. Entah ini efek dari saya hobi menonton serial kartun tiap minggu pagi, dari bangun pagi membuka mata: jam 06.00 teng langsung setel tipi, ada hamtaro, setengah jam kemudian ada kobo chan, chibi maruko chan, doraemon, dragon ball, detektif conan, sinchan, dan entah apa itu masih banyak, tak dapat ku sebutkan satu persatu -gaya kata pengantar-. Mungkin itu semua membuat efek pada diri saya, tapi entah dengan teman-teman semua. Hahaha. Atau terlalu banyak nonton telenovela? Atau nonton pernikahan dini? Ah Iya! Jangan-jangan karna terlalu sering nonton tersanjung?? yang serialnya sampai 8? ah, jangan-jangan akibat nonton Misteri gunung merapi? Jadi saya terobsesi dengan Mak lampir dan Gerandong yang makan orang? Wow, sangat fantastik! :D  

--to be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar